1. Anoa depressicornis (Anoa Dataran Rendah, Kerbau Pendek) dan
2. Anoa quarlesi (Anoa Pegunungan)
Anoa adalah hewan khas Sulawesi. Ada dua spesies anoa yaitu: Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) dan Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis). Keduanya tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia. Penampilan mereka mirip dengan rusa dengan berat 150-300 kg. Kedua spesies tersebut dapat ditemukan di Sulawesi, Indonesia. Sejak tahun 1960-an berada dalam status terancam punah. Diperkirakan saat ini terdapat kurang dari 5000 ekor yang masih bertahan hidup. Anoa sering diburu untuk diambil kulitnya, tanduknya dan dagingnya.
Anoa Pegunungan juga dikenal dengan nama Mountain Anoa, Anoa de Montana, Anoa de Quarle, Anoa des Montagnes, dan Quarle’s Anoa. Sedangkan Anoa Dataran Rendah juga dikenal dengan nama Lowland Anoa, Anoa de Ilanura, atau Anoa des Plaines.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Hewan, Filum: Chordata, Kelas: Mamalia, Ordo: Artiodactyla, Famili: Bovidae, Upafamili: Bovinae, Genus: Bubalus, Spesies: B. quarlesi, B. depressicornis. Nama binomial: Bubalus quarlesi (Ouwens, 1910). Bubalus depressicornis (H. Smith, 1827).
8. Anoa (Bubalus Depressicornis)
merupakan mamalia berkuku genap. Sekilas perawakan anoa mirip kambing tetapi ukuran tubuhnya lebih besar. Pada kepala Anoa terdapat tanduk runcing yang panjangnya bisa mencapai 30 cm. Daerah penyebarannya di wilayah Sulawesi.
Alamendah's Blog
Flora, Fauna, dan Alam Indonesia
Lanjut ke konten
• Home
• Tentang Saya
• Penulis Tamu
• ReKSAPALA
• Peraturan Hukum
• Daftar Catatan
• Download
• Tips Blog
← Hemat Listrik Saat Menggunakan Komputer
Bunga (Puspa) Nasional Indonesia →
Anoa Satwa Endemik Sulawesi
Posted on 28 April 2010 by alamendah
Anoa adalah satwa endemik pulau Sulawesi, Indonesia. Anoa juga menjadi fauna identitas provinsi Sulawesi Tenggara. Satwa langka dan dilindungi ini terdiri atas dua spesies (jenis) yaitu: anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis). Kedua satwa ini tinggal dalam hutan yang jarang dijamah manusia. Kedua spesies anoa tersebut hanya dapat ditemukan di Sulawesi, Indonesia. Diperkirakan saat ini terdapat kurang dari 5000 ekor yang masih bertahan hidup. Anoa sering diburu untuk diambil kulitnya, tanduknya dan dagingnya.
Baik Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) maupun Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) sejak tahun 1986 oleh IUCN Redlist dikategorikan dalam binatang dengan status konservasi “Terancam Punah” (Endangered; EN) atau tiga tingkat di bawah status “Punah”.
Secara umum, anoa mempunyai warna kulit mirip kerbau, tanduknya lurus ke belakang serta meruncing dan agak memipih. Hidupnya berpindah-pindah tempat dan apabila menjumpai musuhnya anoa akan mempertahankan diri dengan mencebur ke rawa-rawa atau apabila terpaksa akan melawan dengan menggunakan tanduknya.
Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) sering disebut sebagai Kerbau kecil, karena Anoa memang mirip kerbau, tetapi pendek serta lebih kecil ukurannya, kira-kira sebesar kambing. Spesies bernama latin Bubalus depressicornis ini disebut sebagai Lowland Anoa, Anoa de Ilanura, atau Anoa des Plaines. Anoa yang menjadi fauna identitas provinsi Sulawesi tenggara ini lebih sulit ditemukan dibandingkan anoa pegunungan.
Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis)
Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) mempunyai ukuran tubuh yang relatif lebih gemuk dibandingkan saudara dekatnya anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). Panjang tubuhnya sekitar 150 cm dengan tinggi sekitar 85 cm. Tanduk anoa dataran rendah panjangnya 40 cm. Sedangkan berat tubuh anoa dataran rendah mencapai 300 kg.
Anoa dataran rendah dapat hidup hingga mencapai usia 30 tahun yang matang secara seksual pada umur 2-3 tahun. Anoa betina melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan. Masa kehamilannya sendiri sekitar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.
Anoa dataran rendah hidup dihabitat mulai dari hutan pantai sampai dengan hutan dataran tinggi dengan ketinggian 1000 mdpl. Anoa menyukai daerah hutan ditepi sungai atau danau mengingat satwa langka yang dilindungi ini selain membutuhkan air untuk minum juga gemar berendam ketika sinar matahari menyengat.
Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) sering disebut juga sebagai Mountain Anoa, Anoa de montagne, Anoa de Quarle, Berganoa, dan Anoa de montaƱa. Dalam bahasa latin anoa pegunungan disebut Bubalus quarlesi.
Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi)
Anoa pegunungan mempunyai ukuran tubuh yang lebih ramping dibandingkan anoa datarn rendah. Panjang tubuhnya sekitar 122-153 cm dengan tinggi sekitar 75 cm. Panjang tanduk anoa pegunungan sekitar 27 cm dengan berat tubuh dewasa sekitar 150 kg. Anoa pegunungan berusia antara 20-25 tahun yang matang secara seksual saat berusia 2-3 tahun. Seperti anoa dataran rendah, anoa ini hanya melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan yang berkisar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.
Anoa pegunungan berhabitat di hutan dataran tinggi hingga mencapai ketinggian 3000 mdpl meskipun terkadang anoa jenis ini terlihat turun ke pantai untuk mencari garam mineral yang diperlukan dalam proses metabolismenya.
Anoa pegunungan cenderung lebih aktif pada pagi hari, dan beristirahat saat tengah hari. Anoa sering berlindung di bawah pohon-pohon besar, di bawah batu menjorok, dan dalam ruang di bawah akar pohon atau berkubang di lumpur dan kolam. Tanduk anoa digunakan untuk menyibak semak-semak atau menggali tanah Benjolan permukaan depan tanduk digunakan untuk menunjukkan dominasi, sedangkan pada saat perkelahian, bagian ujung yang tajam menusuk ke atas digunakan dalam upaya untuk melukai lawan. Ketika bersemangat, anoa pegunungan mengeluarkan suara “moo”.
Populasi dan Konservasi. Anoa semakin hari semakin langka dan sulit ditemukan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) yang menjadi maskot provinsi Sulawesi Tenggara tidak pernah terlihat lagi. Karena itu sejak tahun 1986, IUCN Redlist memasukkan kedua jenis anoa ini dalam status konservasi “endangered” (Terancam Punah).
Selain itu CITES juga memasukkan kedua satwa langka ini dalam Apendiks I yang berarti tidak boleh diperjual belikan. Pemerintah Indonesia juga memasukkan anoa sebagai salah satu satwa yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Beberapa daerah yang masih terdapat satwa langka yang dilindungi ini antaranya adalah Cagar Alam Gunung Lambusango, Taman Nasional Lore-Lindu dan TN Rawa Aopa Watumohai (beberapa pihak menduga sudah punah).
Anoa sebenarnya tida mempunyai musuh (predator) alami. Ancaman kepunahan satwa endemik Sulawesi ini lebih disebabkan oleh deforestasi hutan (pembukaan lahan pertanian dan pemukiman) dan perburuan yang dilakukan manusia untuk mengambil daging, kulit, dan tanduknya.
Pada tahun 2000, masyarakat Kabupaten Buton dan Konawe Selatan dibantu pihak BKSDA pernah mencoba untuk membuka penangkaran anoa. Tetapi usaha ini akhirnya gagal lantaran perilaku anoa yang cenderung tertutup dan mudah merasa terganggu oleh kehadiran manusia sehingga dari beberapa spesies yang ditangkarkan tidak satupun yang berhasil dikawinkan.
Tahun 2010 ini, Taman Nasional Lore-Lindu akan mencoba melakukan penangkaran satwa langka yang dilindungi ini. Semoga niat baik ini dapat terlaksana sehingga anoa datarn rendah (Bubalus depressicornis) dan Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) dapat lestari dan menjadi kebanggan seluruh bangsa Indonesia seperti halnya Panser Anoa buatan Pindad.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mamalia, Ordo: Artiodactyla, Famili: Bovidae, Upafamili: Bovinae, Genus: Bubalus, Spesies: Bubalus quarlesi, Bubalus depressicornis. Nama binomial: Bubalus quarlesi (Ouwens, 1910). Bubalus depressicornis (H. Smith, 1827).
Animalia
Minggu, 22 Juni 2014
Senin, 26 Mei 2014
Burung Maleo
Pernyataan Umum
Burung Maleo (Macrocephalon maleo) merupakan sejenis burung langka yang berasal dari kerajaan vertebrata, filum chordata, kelas: aves (Burung), ordo galliformes, famili megapodiidae. Beberapa orang menyebut burung ini mirip dengan ayam. Namun burung Maleo tetaplah Burung Maleo, berbeda dengan ayam. Burung Maleo hanya bisa ditemukan di Pulau Sulawesi sehingga burung ini disebut dengan satwa endemik Sulawesi. Status hewan ini masuk dalam “hampir punah” oleh IUCN, sedangkan CITES memasukkan status burung ini dengan kategori Appendix I. Burung maleo menjadi langka karena habitatnya terus terdesaknya hutan akibat penebangan liar ataupun banyaknya perburuan telur dan burung ini oleh manusia ataupun hewan predator seperti Elang, Kucing, Babi Hutan (Sus sp), dan Biawak (Varanus sp). Namun untuk saat ini keberadaan dari burung ini sedikit terlindungi dari ancaman punah berkat adanya kerja sama antara Dinas Kehutanan Melalui Balai Taman Nasional Lore Lindu dan masyarakat setempat yang berhasil membuat tempat penangkarannya. Selain langka, burung ini ternyata unik karena anti poligami.
Anggota atau Aspek yang dilaporkan
Burung Maleo di Taman Nasional Lore Lindu memiliki ukuran tubuh yang tergolong sedang dengan panjang sekitar 55 cm. Burung Maleo memiliki bulu yang didominasi dengan warna hitam. Bulu disekitar perut berwarna putih dan terdapat berkas oren. Ada warna kuning pada kulit sekitar mata. Iris mata berwarna merah kecoklatan. Kaki berwarna abu-abu. Paruh berwarna jingga dan adanya warna merah muda yang agak putih pada bulu sisi bawah. Memiliki jambul yang keras atau tanduk yang berwarna hitam. Tonjolan ini hanya muncul pada saat burung maleo memasuki usia dewasa dan tidak akan bisa ditemukan pada saat burung masih anak-anak atau remaja. Tonjolan ini diduga digunakan untuk mendeteksi panas bumi yang sesuai untuk menetaskan telurnya. Paruhnya kecil dan tidak panjang seperti paruh ayam. Panjangnya sekitar 5 cm dengan warna oren muda.
Ciri-ciri fisik antara jantan dan betina hampir sama hanya saja biasanya untuk burung yang betina memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan berwarna lebih kelam bila dibandingkan dengan burung maleo jantan. Hewan ini memiliki telur yang berukuran besar yaitu sekitar 250 gram atau lebih besar 5 kali daripada ukuran telur ayam kampung.
Sifat
Burung Maleo ini memiliki sifat yang setia kepada pasangannya dimana burung maleo hanya memiliki satu pasangan dalam hidupnya. Burung ini tidak akan bertelur lagi jika pasangannya telah mati.
Burung ini terlihat sehat terbukti dari gambarnya yang terlihat cerah dan burung itu yang masih bisa berdiri tegak dan segar dengan tanpa cacat di bagian tubuhnya.
Burung ini lebih memilih jalan kaki daripada terbang walaupun memiliki bulu yang cukup panjang pada bagian sayapnya.
Anak burung maleo yang berhasil mencapai permukaan mempunyai kemampuan untuk terbang serta mampu mencari makan sendiri tanpa bantuan dari induk. Maleo tidak akan mengerami telurnya. Telur burung maleo akan dikubur ke dalam pasir dengan kedalaman sekitar 50 cm yang biasanya berada di dekat sumber mata air panas. Setelah menimbun telur ke dalam pasir induk akan meninggalkan telur itu dan tidak akan pernah kembali lagi. Lamanya masa telur untuk menetas adalah sekitar 2 hingga 3 bulan dan suhu yang diperlukan adalah sekitar 32-35 derajat Celcius. Anak burung maleo yang baru menetas dari telur akan berusaha naik ke permukaan tanah dengan usahanya sendiri tanpa bantuan dari induk burung. Lamanya masa mencapai ke permukaan tanah tergantung dari jenis tanah, namun biasanya mencapai 2 hari. Jika anak burung maleo yang baru menetas tidak bisa naik ke permukaan selama 3 hari maka bisa dipastikan anak burung maleo tersebut mati.
Habitat
Populasi burung ini hanya bisa ditemukan di pulau Sulawesi. Burung maleo mempunyai populasi yang lebih banyak di Sulawesi Tenggara bila dibandingkan dengan daerah lain di pulau Sulawesi. Di Taman Nasional Lore Lindu ini populasi burung maleo diperkirakan hanya tersisa 320 ekor. Kandang Burung Maleo terlihat tidak begitu bersih namun terawat. Pagarnya terbuat dari … yang dilapisi … yang di bawahnya terbuat dari semen. Di pagarnya terdapat banner yang berisi identitas Burung Maleo. Di sekitar kandang banyak pepohonan yang cukup tinggi. Ada dua tempat minum di kandangnya. Di dalam kandangnya tidak terdapat tumbuahan satu pun. Di dalam kandang itu hanya terdapat satu burung maleo. Sehingga kandang itu termasuk kandang yang luas.
Burung Maleo (Macrocephalon maleo) merupakan sejenis burung langka yang berasal dari kerajaan vertebrata, filum chordata, kelas: aves (Burung), ordo galliformes, famili megapodiidae. Beberapa orang menyebut burung ini mirip dengan ayam. Namun burung Maleo tetaplah Burung Maleo, berbeda dengan ayam. Burung Maleo hanya bisa ditemukan di Pulau Sulawesi sehingga burung ini disebut dengan satwa endemik Sulawesi. Status hewan ini masuk dalam “hampir punah” oleh IUCN, sedangkan CITES memasukkan status burung ini dengan kategori Appendix I. Burung maleo menjadi langka karena habitatnya terus terdesaknya hutan akibat penebangan liar ataupun banyaknya perburuan telur dan burung ini oleh manusia ataupun hewan predator seperti Elang, Kucing, Babi Hutan (Sus sp), dan Biawak (Varanus sp). Namun untuk saat ini keberadaan dari burung ini sedikit terlindungi dari ancaman punah berkat adanya kerja sama antara Dinas Kehutanan Melalui Balai Taman Nasional Lore Lindu dan masyarakat setempat yang berhasil membuat tempat penangkarannya. Selain langka, burung ini ternyata unik karena anti poligami.
Anggota atau Aspek yang dilaporkan
Burung Maleo di Taman Nasional Lore Lindu memiliki ukuran tubuh yang tergolong sedang dengan panjang sekitar 55 cm. Burung Maleo memiliki bulu yang didominasi dengan warna hitam. Bulu disekitar perut berwarna putih dan terdapat berkas oren. Ada warna kuning pada kulit sekitar mata. Iris mata berwarna merah kecoklatan. Kaki berwarna abu-abu. Paruh berwarna jingga dan adanya warna merah muda yang agak putih pada bulu sisi bawah. Memiliki jambul yang keras atau tanduk yang berwarna hitam. Tonjolan ini hanya muncul pada saat burung maleo memasuki usia dewasa dan tidak akan bisa ditemukan pada saat burung masih anak-anak atau remaja. Tonjolan ini diduga digunakan untuk mendeteksi panas bumi yang sesuai untuk menetaskan telurnya. Paruhnya kecil dan tidak panjang seperti paruh ayam. Panjangnya sekitar 5 cm dengan warna oren muda.
Ciri-ciri fisik antara jantan dan betina hampir sama hanya saja biasanya untuk burung yang betina memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan berwarna lebih kelam bila dibandingkan dengan burung maleo jantan. Hewan ini memiliki telur yang berukuran besar yaitu sekitar 250 gram atau lebih besar 5 kali daripada ukuran telur ayam kampung.
Sifat
Burung Maleo ini memiliki sifat yang setia kepada pasangannya dimana burung maleo hanya memiliki satu pasangan dalam hidupnya. Burung ini tidak akan bertelur lagi jika pasangannya telah mati.
Burung ini terlihat sehat terbukti dari gambarnya yang terlihat cerah dan burung itu yang masih bisa berdiri tegak dan segar dengan tanpa cacat di bagian tubuhnya.
Burung ini lebih memilih jalan kaki daripada terbang walaupun memiliki bulu yang cukup panjang pada bagian sayapnya.
Anak burung maleo yang berhasil mencapai permukaan mempunyai kemampuan untuk terbang serta mampu mencari makan sendiri tanpa bantuan dari induk. Maleo tidak akan mengerami telurnya. Telur burung maleo akan dikubur ke dalam pasir dengan kedalaman sekitar 50 cm yang biasanya berada di dekat sumber mata air panas. Setelah menimbun telur ke dalam pasir induk akan meninggalkan telur itu dan tidak akan pernah kembali lagi. Lamanya masa telur untuk menetas adalah sekitar 2 hingga 3 bulan dan suhu yang diperlukan adalah sekitar 32-35 derajat Celcius. Anak burung maleo yang baru menetas dari telur akan berusaha naik ke permukaan tanah dengan usahanya sendiri tanpa bantuan dari induk burung. Lamanya masa mencapai ke permukaan tanah tergantung dari jenis tanah, namun biasanya mencapai 2 hari. Jika anak burung maleo yang baru menetas tidak bisa naik ke permukaan selama 3 hari maka bisa dipastikan anak burung maleo tersebut mati.
Habitat
Populasi burung ini hanya bisa ditemukan di pulau Sulawesi. Burung maleo mempunyai populasi yang lebih banyak di Sulawesi Tenggara bila dibandingkan dengan daerah lain di pulau Sulawesi. Di Taman Nasional Lore Lindu ini populasi burung maleo diperkirakan hanya tersisa 320 ekor. Kandang Burung Maleo terlihat tidak begitu bersih namun terawat. Pagarnya terbuat dari … yang dilapisi … yang di bawahnya terbuat dari semen. Di pagarnya terdapat banner yang berisi identitas Burung Maleo. Di sekitar kandang banyak pepohonan yang cukup tinggi. Ada dua tempat minum di kandangnya. Di dalam kandangnya tidak terdapat tumbuahan satu pun. Di dalam kandang itu hanya terdapat satu burung maleo. Sehingga kandang itu termasuk kandang yang luas.
Langganan:
Postingan (Atom)